Pasar Blauran dari Lensaku

 

Minggu (masih cukup) pagi

tapi aku bertekad menghabiskan akhir pekan di pusat perbelanjaan yang sejuk, aku memilih membawa kamera dan berjalan menuju Pasar Blauran.

Aku memang suka memotret. Ada sesuatu yang selalu membuatku tertarik pada tempat-tempat yang menyimpan kehidupan sehari-hari. Bukan tempat yang sengaja dibuat indah untuk difoto, tetapi tempat yang memang hidup, dengan orang-orang yang sedang bekerja, menunggu pembeli, mengobrol, makan, atau sekadar menjalani rutinitas.

Dan pagi itu, aku ingin memotret Blauran.

Bukan karena Blauran sedang menjadi tempat yang paling ramai di Surabaya.

Justru sebaliknya.

Aku ingin melihat apa yang masih tersisa dari sebuah pasar yang pernah menjadi salah satu denyut perdagangan kota. Karena kamera membuatku melihat Blauran dengan cara berbeda.

Begitu masuk, tanganku refleks mengangkat kamera.



Aku mulai mencari frame.

Lorong.

Papan nama toko yang sudah tua.

Tumpukan barang.

Pedagang yang duduk menunggu pembeli.

Seorang ibu yang sedang memilih pakaian.

Seorang bapak yang berbincang dengan pedagang.

Cahaya yang masuk dari sela-sela bangunan.

Semua terlihat biasa saja.

Tetapi melalui kamera, hal-hal biasa itu tiba-tiba terasa penting.



Aku mulai memperhatikan sesuatu yang mungkin luput kalau aku datang hanya untuk berbelanja.

Blauran ternyata bukan sekadar bangunan pasar.

Ia seperti sebuah arsip kehidupan kota.

Setiap kios menyimpan cerita. Setiap pedagang memiliki perjalanan. Bahkan lorong yang tampak sepi pun terasa seperti menyimpan suara dari masa lalu.

Dan semakin lama aku berjalan, semakin muncul satu pertanyaan di kepalaku:

Bagaimana pasar seperti ini bisa tetap bertahan?



Blauran yang dulu

Pertanyaan itu kemudian membawaku mencari tahu tentang sejarahnya.

Pasar Blauran bukan pasar yang baru muncul kemarin sore. Ia telah menjadi bagian dari Surabaya sejak 1934. Dalam perjalanannya, pasar ini beberapa kali mengalami kebakaran dan renovasi, termasuk kebakaran besar pada 1966 dan 1978 yang kemudian melahirkan Pasar Blauran Baru.

Letaknya juga bukan sembarangan.



Blauran berada di kawasan yang sejak lama menjadi bagian dari pusat perdagangan Surabaya, tidak jauh dari Jalan Tunjungan dan Embong Malang.

Dulu, ketika belum ada marketplace dan pusat perbelanjaan modern seperti sekarang, orang datang ke Blauran karena memang di sanalah mereka mencari berbagai kebutuhan.

Pakaian.

Sepatu.

Buku.

Perlengkapan sekolah.

Perhiasan.

Makanan.

Pasar menjadi bagian dari rutinitas warga.

Dan salah satu yang membuat Blauran begitu dikenal adalah perdagangan bukunya.

Aku membayangkan suasana Blauran beberapa puluh tahun lalu: lorong-lorong penuh manusia, pedagang menawarkan dagangannya, pembeli berpindah dari satu kios ke kios lain, dan buku-buku memenuhi ruang yang sekarang mungkin terasa jauh lebih lengang.

Dulu, menurut berbagai catatan, pedagang buku di Blauran jumlahnya mencapai puluhan.

Sekarang?

Tinggal beberapa.

Pada awal 2026, jumlah pedagang buku yang tersisa disebut sekitar tujuh hingga delapan orang, dan bahkan tidak semuanya membuka kios setiap hari. Ada hari ketika tidak satu pun buku terjual.

Aku berhenti memotret sebentar ketika membaca fakta itu.

Lalu melihat lagi ke arah lorong.

Tiba-tiba suasananya terasa berbeda. Beberapa bertahan, demi sesuap nasi. Beberapa sudah melarikan diri, gak kuat dengan angin yang sangat kencang dari tetangga sekeliling. Dan aku bersyukur, masih bisa melihat mereka yang bertahan.



Di sebelah sana, ada dunia yang lebih dingin

Blauran hari ini hidup berdampingan dengan dunia yang sangat berbeda.

Tidak jauh dari sana, gedung-gedung modern berdiri dengan kaca, lampu, eskalator, toko-toko dengan display rapi, dan tentu saja AC.

Aku tersenyum sendiri memikirkan satu hal sederhana.

Orang Surabaya tentu lebih nyaman berbelanja di tempat yang dingin.

Apalagi ketika matahari sedang terik.

Masuk ke gedung, pintu otomatis terbuka.

Udara panas langsung berganti dengan udara dingin.

Lantai mengilap.

Musik terdengar pelan.

Barang tertata.

Tidak perlu berkeringat.

Tidak perlu mencari tempat parkir yang sempit.

Tidak perlu berdesakan di lorong.

Sementara di Blauran, pengalaman berbelanja terasa jauh lebih apa adanya.




Dan mungkin justru di situlah persoalannya.

Pasar tradisional tidak hanya berhadapan dengan pusat perbelanjaan.

Ia berhadapan dengan perubahan ekspektasi konsumen tentang apa arti nyaman.

Dulu, orang datang ke pasar karena barangnya dibutuhkan.

Sekarang, orang juga mempertimbangkan pengalaman ketika membeli barang.

AC menjadi penting.

Kebersihan menjadi penting.

Penataan menjadi penting.

Parkir menjadi penting.

Bahkan Instagrammability pun mungkin mulai menjadi pertimbangan.

Blauran tidak selalu memenangkan semua pertarungan itu.


Tapi mengapa mereka masih membuka pintu?

Ini bagian yang paling menarik bagiku sebagai fotografer.

Karena ketika aku mengarahkan kamera kepada para pedagang, aku tidak melihat orang-orang yang tidak tahu bahwa zaman sudah berubah.

Aku justru melihat orang-orang yang sangat sadar bahwa zaman sudah berubah.

Mereka tahu pembeli semakin sedikit.

Mereka tahu marketplace mengambil sebagian pelanggan.

Mereka tahu pusat perbelanjaan menawarkan tempat yang lebih nyaman.

Tetapi keesokan paginya, mereka tetap datang.

Membuka pintu kios.

Menata barang.

Duduk.

Menunggu.

Mungkin ada pembeli.

Mungkin tidak ada.

Tetapi mereka tetap membuka.



Aku kemudian berpikir, mungkin alasan mereka bertahan tidak semuanya bisa dihitung dengan kalkulator.

Ada orang yang sudah berjualan selama puluhan tahun.

Ada usaha keluarga yang diwariskan dari orang tua.

Ada pelanggan yang sudah dikenal sejak lama.

Ada hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun.

Dan ada rasa memiliki terhadap tempat ini.

Ketika sebuah kios telah menjadi bagian dari kehidupan seseorang selama dua puluh, tiga puluh, bahkan lebih banyak tahun, meninggalkannya tentu bukan sekadar keputusan bisnis.

Ada kenangan yang ikut ditinggalkan.

Aku menemukan cerita justru ketika pasar sedang sepi

Sebagai fotografer, aku justru menyukai kondisi seperti ini.

Pasar yang terlalu ramai kadang membuat semua orang terlihat sama.

Orang bergerak cepat.

Pedagang sibuk.

Pembeli datang dan pergi.

Tetapi ketika pasar mulai sepi, aku bisa melihat detail.

Seorang pedagang yang menunggu.

Tangannya yang sudah keriput.

Kursi plastik di depan kios.

Koran yang dibaca sambil menunggu pembeli.

Barang dagangan yang tersusun rapi meskipun belum tentu ada yang membeli hari itu.

Aku menekan tombol shutter.

Klik.

Satu frame.

Klik.

Frame berikutnya.

Dan aku mulai sadar bahwa yang sebenarnya ingin aku foto bukanlah bangunan Pasar Blauran.

Aku ingin memotret ketahanan.

Karena pasar bukan hanya tentang barang

Mungkin ini yang sering hilang ketika kita membandingkan pasar tradisional dengan pusat perbelanjaan modern.

Kita terlalu cepat membandingkan harga.

Kita membandingkan fasilitas.

Kita membandingkan kenyamanan.

Kita membandingkan jumlah pengunjung.

Tetapi ada sesuatu yang lebih sulit diukur:

relasi.

Di pasar, transaksi sering kali diawali percakapan.

“Cari apa?”

“Ukuran berapa?”

“Yang ini bagus, Bu.”

“Sudah lama nggak ke sini.”

Ada hubungan personal yang tumbuh dari transaksi yang berulang.

Dan hubungan seperti itu tidak selalu bisa digantikan oleh tombol checkout.

Mungkin karena itulah masih ada orang yang kembali.

Bukan hanya karena barangnya.

Tetapi karena orangnya.

Blauran tidak harus kembali seperti dulu

Aku tidak tahu apakah Blauran suatu hari akan kembali seramai masa kejayaannya.

Mungkin tidak.

Dan mungkin memang tidak perlu.

Kota berubah.

Cara orang berbelanja berubah.

Teknologi berubah.

Generasi berganti.

Pasar pun harus menemukan cara baru untuk hidup.

Kuliner menjadi salah satu kekuatannya. Blauran masih dikenal dengan berbagai makanan khas dan jajanan yang menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan beberapa usaha kuliner di kawasan ini justru menjadi pintu masuk bagi orang-orang yang kemudian berjalan lebih jauh ke dalam pasar.

Mungkin itu salah satu cara Blauran bertahan:

bukan dengan melawan perubahan,

tetapi dengan menemukan alasan baru agar orang mau datang.

Satu foto sebelum pulang

Hari semakin siang.

Aku memasukkan kamera ke dalam tas.

Sebelum meninggalkan pasar, aku menoleh sekali lagi.

Di luar sana, gedung-gedung modern berdiri megah.

Kaca-kacanya memantulkan cahaya matahari.

Orang-orang masuk ke dalam ruangan ber-AC.

Dan di belakangku, Pasar Blauran tetap menjalani harinya.

Tidak spektakuler.

Tidak sempurna.

Tidak selalu ramai.

Tetapi hidup.

Aku kemudian mengambil satu foto terakhir.

Bukan foto gedung.

Bukan foto papan nama.

Bukan foto barang dagangan.

Aku memotret seorang pedagang yang sedang duduk menunggu pembeli.



Entah kenapa, foto itu terasa paling mewakili Blauran.

Karena mungkin inti dari cerita pasar ini bukanlah tentang masa lalu yang hilang.

Melainkan tentang orang-orang yang masih memilih untuk membuka pintunya setiap pagi, meskipun mereka tahu dunia di luar sana telah berubah.

Aku datang ke Blauran untuk mencari objek foto.

Tetapi aku pulang membawa pertanyaan yang lebih panjang:

Sebenarnya, apa yang membuat seseorang tetap bertahan ketika dunia sudah menyediakan begitu banyak alasan untuk pergi?

Mungkin jawabannya ada pada para pedagang itu.

Mungkin juga ada pada kita—orang-orang yang masih mau datang, melihat, membeli, bercakap-cakap, dan sesekali mengangkat kamera untuk mengabadikan mereka.

Karena selama masih ada yang datang dan melihat, cerita Blauran belum selesai.

Dan pagi itu, melalui kamera, aku merasa baru saja memotret satu bagian kecil dari cerita panjang Surabaya. Sebelum pulang, kayuhan pesepeda pun jadi bagian dari Blauran.



Komentar

Postingan Populer